Renungan-Harian-24-Maret-2019
Renungan Harian Yehezkiel 36: 26
Renungan-Harian-25-Maret-2019
Renungan Harian Yohanes 3: 16
Show all

Sejarah Paskah: Paskah adalah…

Sejarah-Paskah-Paskah-adalah


Sejarah Paskah: Paskah adalah… Rangkaian Edukasi Liturgi dalam beberapa minggu ke depan akan membahas seputar Masa Raya Paskah yang sebentar lagi akan kita masuki, yaitu mulai dari Rabu Abu sampai Pentakosta. Paskah telah dirayakan sebelum gereja mengenal tradisi perayaan Paskah. Sejak abad ke-2, Paskah merupakan perayaan umat Kristiani yang paling penting, karena peristiwa Paskah adalah dasar, titik tolak, dan pusat iman Kristen. Keempat Injil dan seluruh kitab Perjanjian Baru mencatat terjadinya peristiwa Paskah, yaitu hari Kebangkitan Yesus dari kubur. Rasul Paulus menuliskan:  Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sia jugalah kepercayaan kamu” (1Kor.15:14).

Arti Paskah Dalam Perjanjian Lama

Di dalam Perjanjian Lama, Paskah atau Passover atau Pesakh (Ibrani) atau Pascha (Yunani) adalah perayaan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir, di mana pada saat itu diadakan upacara “roti tidak beragi” dan “persembahan anak sulung” dengan “upacara korban domba Paskah”, dan merupakan perintah Tuhan agar dikenang oleh Musa dan bani Israel (Kel.12:14,17,21).

Arti Paskah Dalam Tradisi Yahudi

Dalam tradisi Yahudi yang lazim sampai saat ini, kepala keluarga mengucapkan pujipujian lalu mengedarkan cawan anggur pertama. Makanan kecil disajikan sebagai hidangan pendahuluan. Kemudian cawan anggur yang kedua diedarkan. Lalu ada seorang anak laki-laki harus bertanya, “Apa arti semua upacara ini?” Kepala keluarga menjawab dengan membacakan kitab Ulangan 26:5-11.

Pembacaan kitab suci kemudian disambut dengan menyanyikan salah satu Mazmur, biasanya Mazmur 113-118. Sesudah kepala keluarga membagikan roti yang tidak beragi, daging anak domba dan kuah pahit, lalu cawan anggur yang ketiga diedarkan. Setelah semua selesai makan, mereka menyanyikan bagian kedua dari Mazmur. Perayaan ini diakhiri dengan cawan anggur keempat sebagai cawan perpisahan. Perjamuan Paskah Yahudi seperti itulah yang dirayakan Yesus bersama murid-murid-Nya seperti yang dicatat dalam Injil Lukas 22.

Arti Paskah Dalam Perjanjian Baru

Seperti yang dinyatakan dalam Kolose 2:17 dan Ibrani 10:1, hari raya pada masa Perjanjian Lama adalah bayangan dari apa yang akan datang, dan wujudnya adalah Kristus. Pada masa kini, Gereja Tuhan di seluruh dunia merayakan Paskah dalam arti yang sesungguhnya yaitu bangkitnya Yesus sebagai Anak Domba Paskah (1Kor. 5:7-8) dari kematian.

Makna ini sejajar dengan Paskah Yahudi, yaitu pembebasan orang Israel dari perbudakan di Mesir, penyerahan anak sulung kepada Tuhan, juga akan korban anak domba serta pelaburan kedua tiang pintu dan ambang pintu atas dengan darah domba sehingga Allah melewatkan keluarga orang Israel dalam rumah itu dari tulah. Jadi, Paskah sama-sama dimaknai sebagai perayaan kebangkitan dari kematian.

Sejalan dengan makna Paskah dalam Perjanjian Lama, Paskah dalam Perjanjian Baru menunjukkan kasih, anugerah, dan kuasa Allah yang meluputkan umat milik-Nya dari kutuk dan maut, membebaskan orang percaya dari perbudakan dosa serta memberikan kepastian kebangkitan kekal di akhir zaman, melalui kebangkitan Kristus. Peristiwa penyaliban, kematian dan kebangkitan Kristus bukan saja mempunyai makna keluaran yang sama dengan Paskah Yahudi.

Upacara perjamuan makan “Roti tidak Beragi” yang diadakan pada hari Jumat malam kemudian menjadi “Upacara Perjamuan Malam” yang dilakukan oleh Yesus dan rasulnya yang kemudian dijadikan peringatan “Jumat Agung” dalam kalender Kristen. Upacara makan roti perjamuan itu menyiapkan penebusan Yesus, dimana Ia menjadi “Dombah Paskah” yang disalibkan (Yoh.20:1,19,26; Kis.20:1; Kor.16:2; Why.1:10).

Sekalipun begitu, upacara makan roti perjamuan juga dirayakan setiap umat bertemu dalam persekutuan. Perayaan mingguan mengenang kebangkitan Yesus inilah yang membuktikan dengan jelas bahwa peristiwa kebangkitan Yesus terjadi dalam sejarah, dalam ruang dan waktu, sebab dalam perayaan “Sabat” yang begitu ketat diikuti oleh umat Yahudi dalam praktik umat Kristiani (terutama Yahudi Kristen) telah bergeser menjadi “Hari Tuhan” yaitu kenangan akan hari kebangkitan. Adapun kebaktian Minggu yang selalu kita ikuti merupakan replika dari peristiwa Paskah Kebangkitan Kristus-Hari Tuhan.

Sumber: GKI Kota Wisata (www.gkikotawisata.org)

Baca juga: Renungan Harian Lukas 24:1-12 | Paskah

Admin
Admin
Renungan Harian Kristen merupakan sebuah website/blog yang dibuat sebagai bentuk pelayanan pribadi dari admin di bidang multimedia. Kami hadir untuk Anda yang sedang mencari bahan renungan, ringkasan khotbah, maupun bahan cerita sekolah minggu. Kami juga merupakan wadah untuk berbagi berkat melalui renungan dari setiap kontributor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *