Renungan Roma 8-37-39 (Krisis Identitas)
Renungan Roma 8-37-39 (Krisis Identitas)

Renungan Roma 8: 37-39 (Krisis Identitas) 

Renungan Roma 8: 37-39 (Krisis Identitas) Di zaman milenial seperti sekarang ini, hampir semua orang memiliki dan dapat mengakses media sosial. Media sosial yang awalnya dibuat dengan tujuan agar para penggunanya dapat tetap saling terhubung satu sama lain, kini mulai bergeser menjadi media aktualisasi diri.

 

Meski pun tidak semua, namun beberapa postingan menampilkan bakat, penampilan, bahkan kekayaan para memilik akun media sosial dan lain sebagainya. Walau pun tidak melulu buruk, tapi itu semua disajikan sebagai bentuk aktualisasi diri, dimana kita ingin diakui, dianggap baik dan bahkan hebat melalui jumlah ‘like’ atau komentar positif. Semakin banyak tanggapan suka, semakin tinggi pula rasa percaya diri seseorang.

Krisis Identitas

Sebaliknya, ketika unggahan ditanggapi dengan komentar negatif, maka seringkali seseorang akan merasa rendah diri bahkan depresi. Sehingga muncul istilah ‘cyber bullying‘ di mana orang dapat melakukan bully atau perundungan melalui media sosial. Seakan-akan citra manusia hanya dibentuk dan didapatkan dari komentar-komentar ini.

 

Firman Tuhan kali ini menyatakan dengan tegas bagaimana Tuhan memandang kita. Tuhan memandang kita sebagai pemenang yang tak dapat dikalahkan oleh kuasa-kuasa dunia. Ia memberkati kita, dan Ia mau kita menyadari itu. Kata-kata merendahkan, ejekan bahkan hujatan tak semestinya membuat kita percaya bahwa kita tak layak menjalani hidup. Lagi pula kita di ciptakan menurut gambar Allah sendiri. Dan gambar Allah baik adanya.

 

Tuhan pasti tidak ingin kita memandang rendah citra-Nya yang Ia hadirkan dalam diri kita. Kuasa-kuasa buruk dan kegelapan yang ada dalam semua komentar negatif itu tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Dan kasih-Nya ingin agar kita punya citra diri yang positif, bukan yang mengalami krisis identitas, yang jati dirinya diukir lewat komentar dan pendapat orang lain.

 

Jadi, mulai sekarang mari kita mulai mencintai diri sendiri dengan cara yang sehat dan wajar, karena kita tahu bahwa Tuhan sudah menyimpan yang terbaik untuk kita dalam kotak penyimpanan-Nya.

Tuhan memberkati.

 

Penulis: Maria Desi Natalia

Leave a Reply