Renungan Amsal 22: 7 (Go To Hell with Your Aid). Indonesia menjadi anggota resmi IMF sejak 15 April 1954 tetapi Mei 1965 Indonesia keluar karena kerusuhan antara 1964-1965, seperti G30S. Indonesia kembali menjadi anggota pada 23 Februari 2967. Indonesia telah menjadi anggota IMF sejak Soekarno. Namun, tidak berarti Indonesia melihat IMF sebagai lembaga keuangan yang dibutuhkan pinjamannya tetapi merupakan tren negara-negara saat itu. Jika negara meminjam uang dari IMF atau negara kaya, artinya kebijakan politik luar negerinya melemah. Dengan kata lain, negara atau lembaga pendonor sangat mudah mempengaruhi negara peminjam untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Karena itu, kalimat Soekarno yang sangat terkenal saat itu adalah “Go to Hell with Your Aid”.

Go To Hell with Your Aid

Seperti kalimat Soekarno dan ayat di atas, ada relasi vertikal yang asimetris antara orang kaya dan pemiutang atau orang miskin dan pengutang. Relasi yang terjadi adalah superior-inferior, berdaya-tidak berdaya, mengatur-diatur, mandiri-tergantung, memerintah-diperintah. Tampaknya, amsal Salomo ini bermula dari praktik di Israel dari orang yang menjual diri mereka untuk menjadi budak agar melunasi utang (Kel. 21: 2-7).

 

Untuk lepas dari relasi ini, selain bekerja, hendaknya upah kita harus dikelola dengan bijak. Jangan bebal sehingga memboroskan karena akan menjadi gaya hidup. Kemudian, jauhi hedonism dan materialism. Jika mendekati kedua isme itu, kita menghancurkan diri kita sendiri. Hematlah saat menjalani hidup dengan menyeleksi secara ketat atas setiap keinginan yang muncul. Kemudian, bagi orang kaya dan pemiutang, ingatlah bahwa Anda sudah berutang darah dengan Yesus ketika di salib. Karena itu, jangan sewenang-wenang terhadap orang miskin dan pengutang. (die)