Renungan Harian Lukas 6: 37-42 (The Gift). Marcel Mauss dalam karya klasiknya The Gift mengemukakan bahwa 3 kewajiban dalam teori pertukaran adalah 1) memberi hadiah sebagai langkah pertama menjalin relasi sosial, 2) menerima hadiah bermakna sebagai penerimaan ikatan sosial, 3) membalas dengan memberi hadiah dengan nilai yang lebih tinggi menunjukkan integritas sosial. Supaya jelas, sesungguhnya, hadiah tidak pernah bebas nilai. Hadiah selalu menimbulkan kewajiban untuk terjadinya pertukaran yang bersifat timbal-balik. Maksudnya, orang yang menerima wajib membalas. Mengapa? Jawabannya adalah prestasi total. Di sini, ada kehormatan dan harga diri dari pemberi dan penerima. Jadi semakin mahal atau mewah hadiah yang diberikan, semakin kuat martabat dan harga diri seseorang.

The Gift

Sebelum Mauss berteori tentang hadiah dan pertukaran, Injil sudah lama mencatatnya meskipun keduanya berbeda. Ranah Mauss bersifat materi. Ranah Injil bersifat moral. Dari ayat bacaan tersebut ada 2 hukum yang berlaku yang bersifat kausalitas, yaitu hukum pemberian dan kelimpahan. Namun, dalam hukum ini, hukum kelimpahan akan berlaku kalau hukum pemberian sudah dilakukan lebih dulu. Untuk itu, jika Anda ingin seperti Kristus, sang Guru, satu hal yang jangan Anda lakukan adalah Anda jangan melhat selumbar di mata saudaramu tetapi balok di mata Anda sendiri tidak Anda ketahui. Jika cara pandang Anda seperti itu, Anda adalah orang munafik karena selalu melihat kesalahan orang lain tetapi tidak menyadari kesalahan atau membenarkan kekeliruan Anda sehingga Anda cenderung menghukum dan menghakimi orang lain.

Karena itu, terhadap orang lain Anda harus mengampuni sehingga Anda pun diampuni Bapa sehingga hati-Nya sangat berkenan. (ray)