Renungan-Harian-Pengkhotbah-10-Belajar-Dari-Lalat
Renungan-Harian-Pengkhotbah-10-Belajar-Dari-Lalat

Renungan Harian Pengkhotbah 10 | Belajar Dari Lalat

Renungan Harian Pengkhotbah 10 | Belajar Dari Lalat. Siapa orang yang tidak jijik melihat lalat? Ada yang kita dapat pelajari dari lalat. Ada apa dengan lalat? Apakah ada sesuatu yang menarik dari yang menjijikan?

Manusia sudah terbiasa dengan tabiat dosa yang melekat padanya. Dosa yang masih melekat pada kita, itu yang menjadi penghalang kita mencapai tujuan yang benar sesuai kehendak Allah. Misalnya kalau kita sudah tidak suka pada orang, maka kita memandang orang itu semuanya buruk adanya.

Mari kita belajar dari lalat

Pertama:

Lalat berharga dihadapan Tuhan. Kok bisa? Semua yang diciptakan Tuhan pasti ada bermanfaat. Lihat saja barang organik kalau sudah tidak berguna, kalau tidak ada lalat, kapan bisa musnah? Karena lalat, buah bisa dibusukkan, sampai musnah. Karena lalat, binatang mati bisa dibusukkan, sampai musnah. Bahkan tubuh manusia yang sudah mati,  karena lalat bisa dibusukkan sampai musnah. Andai tidak ada lalat bagaimana jadinya barang-barang organic yang sudah tidak bermanfaat itu, pasti tidak bisa diurai dan tidak bisa menjadi tanah lagi.

Kedua:

Lalat yang punya kekuatan membusukkan sesuatu barang organic yang sudah tidak bermanfaat itu, menjadi pelajaran dalam Amsal diatas bahwa,  karena sedikit kebodohan maka rusak semua hikmat dan kepandaian yang tinggi. Jadi lalat bisa untuk contoh yang positif dan bisa juga untuk contoh yang negatif. Lalat sama miripnya dengan dosa. Sedikit saja dosa yang kita lakukan, maka rusaklah semua karya Allah dalam dalam kehidupan kita.

Ketiga:

Lalat yang punya daya yang membusukkan, namun lalat juga bisa dipakai pelajaran yang positif. Perbuatan baik sedikit saja, dapat membawa pengaruh yang besar. Perbuatan baik sedikit saja,  bisa membawa pemulihan yang besar bagi orang yang pernah kita benci.  Perbuatan baik sedikit saja, dapat membawa pemulihan bagi keluarga,  pemulihan hubungan dengan tetangga,  pemulihan hubungan dengan teman-teman kerja, dan dapat membawa pemulihan hubungan dengan teman-teman sepelayanan  dll.

BACA JUGA:  Renungan Harian Mazmur 103 | Tanpa Tuhan, Kita Bukan Siapa Siapa

Keempat:

Kalau lalat saja dipandang berguna bagi Allah, apalagi kita yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita dihargai Allah seharga diri Allah sendiri. Allah rela menyerahkan  dirinya bagi kita untuk menggantikan hukuman masuk neraka,  yang harusnya kita tanggung karena dosa yang kita lakukan. Kutuk terhadap kita karena dosa, sudah ditanggung  didalam Tuhan Yesus Kristus yang rela terkutuk di kayu Salib,  karena kita.

 

APLIKASI

  1. Apakah Anda merasa bahwa, Anda seorang yang tidak berharga?
  2. Apa yang dapat Anda pelajari dari lalat?

 

KOMITMEN PRIBADI

Aku sadar sekarang,  kalau aku ini sebenarnya dihargai,  yang seharga dengan diri Allah didalam Yesus Kristus.

 

DOA

Trimakasih Tuhan Yesus, karena pengorbananMu bahkan sampai mati di kayu salib,  untuk gantikan aku,  yang seharusnya aku yang digantung disalib itu. Karena Engkau,  aku menjadi sangat berharga seperti saat sekarang ini.

 

Ditulis oleh: Natanael Agus Pratono

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *