Renungan Harian Keluaran 2: 15-22 | Kebaikan Mengalahkan Ketakutan

Renungan-Harian-Yakobus-4-13-15-Ketergantungan-Kepada-Allah
Renungan Harian Yakobus 4: 13-15 | Ketergantungan Kepada Allah
Renungan-Harian-Filemon-1-4-Doa-Syukur-Paulus
Renungan Harian Filemon 1: 4 | Doa Syukur Paulus
Show all

Renungan Harian Keluaran 2: 15-22 | Kebaikan Mengalahkan Ketakutan

Renungan-Harian-Keluaran-2-15-22-Kebaikan-Mengalahkan-Ketakutan

Renungan-Harian-Keluaran-2-15-22-Kebaikan-Mengalahkan-Ketakutan



Renungan Harian Keluaran 2: 15-22 | Kebaikan Mengalahkan Ketakutan. Rasa takut akan menghilangkan kesempatan untuk berbuat baik. Ada banyak orang yang karena takut dengan kondisi finansial yang menipis, membuat mereka sulit berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Ada pula yang karena takut dimarah, membuat mereka enggan menegur sesama yang berbuat salah. Itulah daya kerja ketakutan. Selalu mematikan banyak perbuatan baik yang sebenarnya bisa kita lakukan.

Kisah Musa di Midian membuktikan bahwa kebaikan mampu mengalahkan rasa takut (ay.1-22). Musa melarikan diri ke Midian karena takut terhadap Firuan yang berikhtiar membunuhnya. Di Midian, Musa duduk di tepi sebuah sumur (ay. 15). Dalam kondisinya yang penuh ketakutan itu, Musa bukan berusaha mencari bantuan untuk menyelamatkan dirinya, malah sebaliknya, ia justru memberi bantuan kepada orang lain. Ia melihat para perempuan, anak dari seorang Imam, dilarang menimba air oleh para gembala. Karena merasa peduli, Musa mengusir para gembala tersebut, lalu ia membantu untuk menimba air, sekaligus memberi minum pada ternak perempuan-perempuan itu (ay. 16-17).

Kebaikan Mengalahkan Ketakutan

Kita juga bisa berbuat baik dalam kondisi apapun, termasuk saat sedang merasa takut. Tidak harus berwujud tindakan besar. Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, asalkan berlandaskan niat yang tulus, maka tetap saja tindakan tersebut menyenangkan hati Tuhan. Jika kita tidak mampu memberi bantuan karena finansial sedang menipis, maka kita bisa mengarahkan sesama kita untuk bertemu orang yang bisa memberi bantuan. Begitu pula saat teguran kita kepada sesama diabaikan, kita bisa melaporkan hal itu kepada orang yang lebih didengar jika memberi teguran. Itulah kebaikan. Selalu banyak rupa dan bentuk.

Jika kita hanya berbuat baik saat merasa berani melakukannya, maka apa bedanya dengan mereka yang tidak berbuat baik karena masih merasa takut? Mereka pun menunggu hal yang sama, yakni menunggu saat yang tepat. Padahal, tidak ada moment khusus untuk berbuat baik. Setiap hari menjadi moment untuk menebar kebaikan.

 

“Dalam keadaan apapun, kita selalu bisa menemukan kesempatan untuk berbuat baik.”

 

Penulis: Yositho Kameo

 

Admin
Admin
Renungan Harian Kristen merupakan sebuah website/blog yang dibuat sebagai bentuk pelayanan pribadi dari admin di bidang multimedia. Kami hadir untuk Anda yang sedang mencari bahan renungan, ringkasan khotbah, maupun bahan cerita sekolah minggu. Kami juga merupakan wadah untuk berbagi berkat melalui renungan dari setiap kontributor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *