Renungan Harian Mazmur 4: 8 (Sukacita Sejati). Gempa yang terjadi di Yogyakarta beberapa Itahun silam mengingatkan akan pengalaman yang saya alami waktu itu. Saya harus kehilangan 2 saudara yang meninggal. Saya juga harus kehilangan rumah yang sudah rata dengan tanah. Saya sempat bingung menentukan langkah selanjutnya. Saya dan keluarga harus berpikir keras mencari tempat tinggal sementara. Apalagi kondisi saya waktu itu sedang hamil,. Rasanya sangat sulit supaya tetap memiliki sukacita.

Sukacita Sejati

Namun, dalam Mazmurtersebut Tuhanmemberi firman tentang hidup bersukacita. Anehnya, pesan sukacita ini berbarengan dengan konteks penderitaan jemaat mula-mula. Saat kita diperhadapkan pada masalah yang berat. Bagaimana mungkin kita dapat bersukacita, saat harus kehilangan orang yang sangat kita kasihi, saat usaha kita mengalami kegagalan dan lain sebagainya. Banyak pergumulan yang harus kita hadapi, misalnya menghadapi kebutuhan yang semakin bertambah dan tidak sebanding dengan pendapatan yang kita terima, dan masih banyak lagi permasalahan hidup yang semakin kompleks.

Kenyataannya hidup tidak seperti yang kita harapkan tetapi Pemazmur ini pun tampaknya mengalami hal serupa, dia bertanya-tanya tentang “berapa lama lagi kemuliaannya dinodai?” (4:3). Namun, sepanjang ia merenungkan hidupnya, ia melihat pekerjaan Tuhan yang dahsyat di dalamnya. Hari demi hari ia menyadari kebaikan Tuhan dalam memelihara hidupnya.

Sukacita yang diberikan Tuhan adalah sukacita dan kebahagiaan di dalam hati. Ini berarti bahwa sukacita yang diberikan Tuhan ditanamkan dalam hati, bersifat batiniah dan mendalam. Mari kita merefleksi diri kita apakah kita sudah memiliki sukacita sejati yang berasal dari Tuhan. (iuk)