Renungan Harian Mazmur 8: 5-9 (Nilai Seseorang) Bapak Bob dikenal sebagai orang yang kaya raya. Baginya, nilai seseorang ditentukan oleh keberhasilan seseorang, banyak kekayaan yang dimilikinya. Ketika seorang pendeta sedang memimpin ibadah pemakaman Bapak Bob, ada jemaat yang bertanya kepada teman di sebelahnya, “Seberapa besar peninggalannya?” Temannya menjawab, “Ia meninggalkan semuanya”.

Nilai Seseorang

Berbeda dengan Pemazmur. Ia berkata bahwa nilai manusia bukan ditentukan oleh status sosial melainkan karena diingat oleh Allah. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari kisah penciptaan, di mana manusia dihormati oleh Allah sebaagai ciptaan yang mulia. Allah menilai kita dengan tinggi, bahkan dikatakan “hampir sama seperti Allah”. Maksud kalimat tersebut bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan oleh Tuhan yang dapat berkomunikasi dengan Allah sebagai pribadi yang sempurna. Manusia dikaruniai potensi untuk mengembangkan diri, bahkan diberi otoritas untuk mengelola dunia ini atas nama Allah (dimahkotainya dengan hormat dan kemuliaan). Itulah sebabnya segenap makhluk ciptaan lain di alam semesta ini tunduk pada penguasaan manusia.

Bagaimana dengan kita? Apakah nilai diri kita terletak pada kekayaan atau deposito, busana yang kita kenakan, rumah tempat tinggal atau jenis mobil yang kita miliki. Bagi orang percaya, nilai diri kita tidak terletak pada hal-hal tersebut tetapi karena diciptakan sebagai pribadi yang berharga. Lebih lagi, kita bernilai karena sudah menerima Yesus Kristus. Oleh karena itu, sepantasnyalah kita menghargai-Nya dengan mengutamakan-Nya dalam segala hal (keluarga, bisnis, dsbnya). (thf)