Renungan Amsal 30: 8 (Kebahagiaan VS Keuangan).  Amier sebut saja seorang yang biasa-biasa saja dalam hidupnya. Namun, ia ingin mendapatkan istri yang kaya raya. Alhasil Amier tidak bisa memilih karena tidak ada yang mau. Asiek, hanyalah seorang yang biasa saja. Ia hanya akan berdoa dan berusaha mendapatkan supaya jodohnya sepadan dengannya. Alhasil tidak dinyana ia dapat bule yang kaya raya. Dari kedua orang tadi siapakah yang kita pilih? Tentu saja, orang kedua. Walaupun keinginannya biasa, kebahagiannya luar biasa. Tanpa hasil dan kenyataan di depan mata, tidak mungkin berbahagia.

Kebahagiaan VS Keuangan

Begitu pula, Agur bin Yake menulis bahwa permintaannya sederhana agar Tuhan jangan memberi kecurangan atau kebohongan. Bahkan kalau bisa, Tuhan bisa menjauhkannya dari kecurangan dan kebohongan tetapi Tuhan memberinya makanan yang menjadi bagiannya.

Apakah kita juga sudah bisa meminta hal tersebut atau kita egois sampai Tuhan harus memberi semua kekayaan dunia tetapi belum cukup puas? Apakah kita sudah mengerjakan bagian kita? Biarlah kita mendapatkan bagian kita dan memuliakan nama-Nya. Kebahagiaan tidak diukur dari materi tetapi dari prinsip hari terlebih dahulu. Prinsip terkadang mendahului hidup kita.

Di dalam kebahagiaan terdapat juga keuangan. Di dalam keuangan belum tentu ada kebahagiaan. Berapa banyak rumah tangga yang hancur dan berpisah karena harta dan warisan? Kebahagiaan sejati di dalamnya ada kejujuran, tanggung jawab, disiplin dan kasih karunia yang kadang kita tidak harus bekerja tetapi mendapatkannya.

Apa pun keadaan kita, jangan sampai melupakan Tuhan. Hendaknya kita berbahagia dan diberkati karena kita taat bukan kekuatan kita. Namun, kekuatan Roh Kudus sudah ada dalam diri kita.