Renungan Harian Lukas 10: 25-37 (Jatuh Tertimpa Tangga) Suatu hari saya bermain lempar bola di halaman rumah bersama keponakan yang masih balita. Karena terlalu semangat bermain bola, saat giliran keponakan melempar, ia melempar terlalu tinggi sehingga saya tidak bisa menangkapnya dan bola itu nyangkut di genteng rumah. Bergegas saya mengambil tangga untuk mengambil bola itu. Saat bola diambil dan hendak turun, kaki saya terpeleset sehingga dengan “suksesnya” saya jatuh. Saat jatuh, saya dapat “bonus” karena tangga itu menjatuhi saya. Keponakan saya justru tertawa terpingkal-pingkal karena saya baru saja melakukan aktraksi lucu.

Jatuh Tertimpa Tangga

Kita bisa memaklumi anak kecil umur 3 tahun. Namun tanpa sadar kita melakukan hal yang sama kepada sesama, terutama rekan-rekan kita. Mendengar rekan kita kecelakaan saat berkendara, kita bukannya bersimpati malah mengatakan teman kita tidak hati-hati. Melihat ada rekan tak sengaja jatuh, kita bukannya menolong malah berkata, “Syukurin! Makanya kalau jalan lihat-lihat”. Seorang, yang turun dari Yerusalem pun demikian, sudah dirampok habis-habisan dan dipukuli tetapi imam dan orang Lewi melewatinya saja.

Salah satu cara kita memperoleh hidup kekal adalah mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri. Sudahkah kita melakukannya? Kalau ada rekan yang kesusahan, kita tidak sensitif dan bereaksi dingin, ada yang salah dengan hati kita. Mungkin hati kita sudah dingin. Saat kita ditimpa kesusahan, tentu kita berharap teman membantu, minimal mengucapkan kata-kata motivasi, bukannya masa bodoh. Mari kita lakukan hal itu kepada rekan-rekan kita. Bantu semampu kita saat mereka butuh bantuan, jangan menertawakan kesusahan mereka, dan jangan mengharapkan mereka akan membalas kebaikan kita, agar Tuhan sendiri yang kelak membalasnya. (ric)