Renungan Harian Lukas 16: 1-15 (Uang Jahat, Uang Hebat?). Julie memiliki pengalaman buruk mengenai uang. Ibunya dahulu adalah pekerja keras dengan imbalan rendah, tidak lebih 10 dollar/minggu. Pengalaman tersebut membekas. Di benaknya tersimpan memori bahwa uang yang cukup selalu berkaitan dengan eksploitasi si kaya terhadap si miskin. Berbeda dengan Siska, orangtuanya yang sukses secara keuangan sering membantu saudara-saudaranya mereka yang berkekurangan. Kesuksesan keuangan dalam keluarganya itu sering dipergunakan untuk mensukseskan pendidikan saudara-saudara mereka tersebut. Lalu, di benak Siska terpatri bahwa uang itu hebat bila digunakan dengan layak.

Uang Jahat, Uang Hebat?

Tuhan Yesus memuji anak-anak dunia ini yang bertindak cerdik menggunakan Mamon setelah dia menceritakan kisah bendahara yang tidak jujur. Mamon lebih banyak digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Bukan rahasia lagi, kalau orang-orang dunia biasa menyekolahkan saudara-saudara mereka supaya nantinya bisa menduduki jabatan-jabatan penting di publik seperti jaksa, hakim, pengacara, polisi, atau tentara. Tujuannya kelak dapat melindungi bisnis yang mereka jalankan karenanya Tuhan Yesus menyebut mereka cerdik, mengikat persahabatan dengan menggunakan mamon. Mereka setia membantu “perkara kecil” orang lain, yang walaupun dengan pamrih tetapi ujungnya, mereka mendapat perlindungan yang “besar” pada kemudian hari dari kesetiaan mereka terhadap kolega-kolega mereka. Begitulah kecerdikan orang dunia, yang Tuhan Yesus perhatikan. Mamon memungkinkan semua itu terjadi.

Namun, ubah pandangan Anda mengenai uang. Uang akan menjadi berkat, bila dikendalikan. Tuhan tidak menginginkan Anda cinta uang tetapi Dia ingin Anda bisa mengendalikannya untuk pekerjaan-Nya. (nug)