Khotbah Kristen Markus 12: 41-44 | Semua adalah milik Tuhan

Renungan-Harian-Anak-1-Samuel-17-45-50-Daud-Dan-Goliat
Renungan Harian Anak 1 Samuel 17: 45-50 | Daud Dan Goliat
2018
Khotbah-Kristen-Lukas-13-10-14-Hari-yang-baik-untuk-disembuhkan
Khotbah Kristen Lukas 13: 10-14 | Hari yang baik untuk disembuhkan
2018
Show all

Khotbah Kristen Markus 12: 41-44 | Semua adalah milik Tuhan

Khotbah-Kristen-Markus-12-41-44-Semua-adalah-milik-Tuhan

Khotbah Kristen Markus 12: 41-44 | Semua adalah milik Tuhan. Apa yang memotivasi saudara memberikan persembahan kepada Tuhan? Banyak orang Kristen berpikir, yah, dari dulu orang Kristen memberi persembahan, maka saya juga harus memberi persembahan. Jadi persembahan dilakukan dengan terpaksa karena sudah tradisi dan mungkin sungkan kalau tidak memberi persembahan.

Ada juga yang berpikir bahwa memberi persembahan itu dengan konsep tabur-tuai. Jika kita memberi persembahan maka Tuhan akan memberkati kita, Tuhan akan menghindarkan kita dari hal-hal yang buruk. Atau ada yang berpikir bahwa kalau kita memberi 100rb Tuhan akan membalas 1jt dan semakin besar kita berikan, maka semakin besar pula balasan dari Tuhan. Dengan demikian, persembahan menjadi ‘sogokan’ buat Tuhan agar tidak memberikan hal buruk pada kita dan selalu memberkati kita.

Hal-hal di atas adalah motivasi-motivasi yang salah dalam memberi persembahan.

Lalu bagaimana konsep persembahan Kristen sesuai dengan firman Tuhan yang kita baca hari ini?

Pada dasarnya, yang harus menjadi motivasi atau alasan utama memberi persembahan kepada Tuhan adalah kesadaran bahwa segala sesuatu adalah milik Allah (baca Mzm. 24:1).

Kesadaran bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia inilah yang membuat janda miskin dapat memberi persembahan dengan benar dan dipuji oleh Tuhan Yesus.

Dari kisah persembahan janda miskin tersebut, kita dapat melihat beberapa prinsip dalam memberi persembahan.

APA YANG DIPUJI OLEH YESUS?

Ketika Tuhan Yesus mengamati persembahan orang kaya dan janda miskin, terhadap siapakah Tuhan Yesus memberi pujian? Terhadap persembahan orang kaya atau persembahan janda miskin? Jawabannya, tentu saja terhadap persembahan janda miskin.

Namun, pertanyaan yang paling penting adalah apa yang menyebabkan Tuhan Yesus lebih memuji persembahan janda miskin daripada semua orang yang memberi persembahan pada waktu itu? Pada umumnya, terhadap pertanyaan ini secara spontan biasanya kita menjawab, ”karena janda tersebut memberi dengan tulus.” Kalau kita memperhatikan teks, benarkah janda ini dipuji oleh Tuhan Yesus karena ia memberi dengan tulus? Marilah kita perhatikan teksnya baik-baik.

Markus 12:43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

Walaupun nanti pada akhirnya saya akan mengatakan bahwa janda miskin ini memberi dengan tulus, namun yang secara eksplisit menjadi alasan Tuhan Yesus memuji janda miskin ini adalah karena ia memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

Pernyataan Tuhan Yesus ini mungkin membuat kita kaget dan bertanya, bagaimana mungkin persembahan janda miskin ini lebih banyak dari yang lain. Bukankah jelas-jelas yang lebih banyak itu adalah persembahan orang-orang kaya? Apakah Tuhan Yesus tidak bisa berhitung?

Sebelum kita mengklaim Tuhan Yesus tidak bisa berhitung, mari kita perhatikan alasan mengapa Tuhan Yesus menyebut persembahan janda miskin ini lebih banyak dari yang lain, di ayat berikutnya:

Markus 12:44

Markus 12:44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Dari ayat ini kita dapat menyimpulkan bahwa janda miskin ini memberi lebih banyak dari yang lain, karena yang lain memberi hanya sebagian kecil dari yang mereka punya, sedangkan janda ini memberi seluruh yang ia miliki. Jelas sekali, bahwa janda miskin ini sangat menyadari bahwa, segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rom. 11:36).

Dari sini kita dapat menemukan satu prinsip, yaitu besar atau kecil itu relatif. Misalnya, seorang yang memberi persembahan 1jt tapi uangnya masih ada 100jt dibandingkan seorang yang memberi 100rb tapi uangnya tinggal 500rb, siapa yang lebih banyak memberi? Kalau dilihat dari jumlah yang diberi, jelas kita akan mengatakan lebih banyak yang 1jt. Tetapi kalau kita lihat berdasarkan yang masih dimiliki, jelas yang 100rb yang lebih banyak. Dengan demikian, ukuran besar kecilnya persembahan yang kita berikan kepada Tuhan bukan ketika membandingkan dengan jumlah persembahan orang lain, tetapi dengan seberapa yang kita miliki.

Artinya, kita harus memberi persembahan secara proporsional.

 

MEMBERI DENGAN KASIH YANG TULUS

Pertanyaan selanjutnya, kalau yang Tuhan Yesus puji dari janda miskin ini adalah jumlahnya yang lebih banyak, apakah berarti tidak perlu kasih yang tulus dalam memberi persembahan kepada Tuhan? Apakah Tuhan Yesus mengabaikan kasih yang tulus dalam memberi persembahan? Jawabannya jelas, tidak!

Menurut saya, janda miskin ini dengan berani memberikan seluruh nafkahnya kepada Tuhan karena didorong oleh kasih yang tulus kepada Tuhan di dalam hatinya yang terdalam. Namun, kasih yang tulus adalah sebuah kata sifat yang sangat abstrak, tak terlihat dengan kasatmata dan tak dapat diukur. Oleh karena itu, Tuhan Yesus tidak membicarakan kasih yang tulus di hati terdalam janda miskin itu, tetapi sebuah wujud nyata yang terpancar dari kasih yang tulus dengan mempersembahkan seluruh yang ada padanya.

Kasih yang tulus tak kan pernah ada sampai terwujud dalam pengorbanan yang nyata.

Dengan demikian kasih yang tulus tidak diukur semata-mata dari jumlah yang kita berikan, tetapi seberapa besar pengorbanan yang kita rasakan ketika memberi.

Inilah yang dilakukan oleh janda miskin ini. Kasihnya yang tulus kepada Tuhan membuat ia memberi dengan pengorbanan yang luar biasa.

Karena itu, memberi dengan kasih yang tulus adalah memberi sampai terluka.

Pertanyaannya, apakah persembahan-persembahan yang kita berikan kepada Tuhan masih disertai dengan pengorbanan yang dalam? Apakah kita memberi sampai terluka? Ataukah kita memberi tanpa merasakan apa-apa?

Ironisnya, justru banyak orang Kristen yang memberi dengan berlindung dibalik kasih yang tulus. Banyak orang Kristen memberi persembahan sekedarnya atau ala kadarnya, dengan mengatakan asalkan memberi dengan kasih yang tulus, jumlah tidak penting. Kalau kita berkaca dari persembahan janda miskin ini, jelas itu adalah konsep yang salah. Kadang-kadang karena kita pelit memberi, tidak mau berkorban dan terluka, lalu kita memakai alasan, yang penting tulus. Tuhan menginginkan kita memberi dengan pengorbanan.

Namun, kita tidak sekedar berkaca dari janda miskin ini dalam hal memberi persembahan dengan pengorbanan yang dalam. 2000 thn yang lalu, sosok yang memuji janda miskin ini, melakukan hal yang jauh lebih besar. Ia tidak hanya mengorbankan apa yang ia miliki. Demi kasih-Nya yang tulus kepada umat manusia, ia rela mengorbankan nyawanya di atas kayu salib dan rela kehilangan segala-galanya untuk janda miskin itu dan untuk kita semua pada hari ini.

 

Penulis: GI. Aksi Bali, M.Th.
Khotbah Kristen Markus 12: 41-44 | Semua adalah milik Tuhan

Baca juga: Khotbah Kristen Amsal 27: 4 | Kanker kedengkian


Admin
Admin
Renungan Harian Kristen merupakan wadah untuk berbagi berkat melalui firman Tuhan setiap hari. Semoga melalui setiap artikel yang dibagikan dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

2 Comments

  1. Anotona Bali berkata:

    Renungan yg membuka wawasan kita dalam memberi persembahan kepada sang pemilikNya sendiri. GBU.

    Semoga para penulis2 RH ini trus dipakai Tuhan…Amin

    • Admin berkata:

      Terima kasih pak Anotona, Semoga setiap tulisan dari kontributor kami dapat menjadi berkat untuk banyak orang. GBU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *