Khotbah-Kristen-Daniel-3-Kedaulatan-Allah-di-Masa-Krisis

Khotbah Kristen Daniel 3 | Kedaulatan Allah di Masa Krisis

Khotbah Kristen Daniel 3. Pada tahun 1837 tiga orang pemuda Methodis dari Inggris (James Calvert, John Hunt, Thomas Jaggar) memutuskan pergi ke Pulau Fiji sebagai misionaris bersama dengan ketiga istri mereka. Masyarakat Pulau Fiji pada masa itu masih kanibal. Dalam perjalanan, kapten kapal yang membawa mereka ke pulau tersebut mencoba membujuk mereka dan berkata kepada salah satu dari mereka, Calvert, ”Kamu akan kehilangan nyawamu dan orang-orang yang bersamamu jika pergi ke tengah-tengah orang-orang yang ganas itu.” Tetapi Calvert menjawab, ”Kami telah mati sebelum kami datang ke sana.”

Apa yang dilakukan oleh anak-anak muda ini merupakan salah satu jawaban doa John Wesley, pendiri dari gerakan misi yang menaungi mereka, yang pernah berkata, ”Give me a hundred men who love God with all their hearts and fear nothing but sin, and I will move the world.” Ketiga pasang pemuda Inggris ini merupakan contoh orang yang mencintai Tuhan dengan sepenuh hati dan tidak takut apa pun, kecuali dosa untuk taat kepada Allah sekalipun resikonya adalah kehilangan nyawa. Ketaatan semacam ini juga telah dikisahkan dalam Daniel 3.

 

Pilihan Sulit: Taat Allah = Mati Vs Taat Raja = Hidup

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diperhadapkan pada satu situasi yang paling sulit dalam kehidupan iman mereka. Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas di dataran Dura di wilayah Babel dan memberikan perintah supaya setiap orang, tidak terkecuali Sadrakh, Mesakh dan Abednego harus sujud menyembah di hadapan patung tersebut pada saat sangkakala dibunyikan.

Perintah raja ini memiliki konsekuensi bila tidak dipatuhi, yaitu akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Ketiga pemuda Yahudi ini sadar bahwa perintah tersebut bertentangan dengan iman mereka karena hanya kepada Allah saja mereka menyembah. Namun, jika mereka tidak patuh, api yang menyala-nyala menanti mereka.

Kengerian yang dihadapi oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak hanya pada perintah raja tersebut, tetapi ditambah dengan situasi di sekeliling mereka yang sama sekali tidak berpihak pada mereka. Orang-orang Kasdim datang kepada raja Nebukadnezar dan melaporkan ketiga pemuda Yahudi tersebut. ”Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego… mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.” (ay.12). Orang-orang Kasdim tersebut sengaja memberi penekanan bahwa ketiga orang Yahudi ini menerima jabatan atas kemurahan Nebukadnezar untuk menunjukkan bahwa orang-orang ini tidak tahu berterima kasih dan tidak setia kepada raja yang telah mempercayai mereka. Seolah ingin membangkitkan murka raja atas ketiga pemuda ini. Ditambah lagi, mereka adalah pemuda-pemuda asing di negeri Babel, tidak ada yang berpihak kepada mereka. Bahkan sekilas kelihatan mereka seperti dibiarkan oleh Tuhan, tidak segera memberi pertolongan. Selain itu yang mereka hadapi adalah kuasa seorang raja yang tidak dapat dilawan oleh siapa pun.

Bukankah kita juga sering menghadapi situasi yang sulit seperti ini dalam kehidupan iman kita? Ada kalanya kita menghadapi situasi seolah-olah kejahatanlah yang memegang kendali dan menguasai seluruh keadaan dan kita berada di dalam posisi yang sangat lemah dan tak berdaya. Apa yang membuat kita dapat bertahan dalam iman kita di tengah krisis dan kesulitan yang berat? Apa yang membuat Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap berdiri teguh dan menolak dengan berani perintah raja Nebukadnezar?

 

Ketaatan Total di Atas Segalanya

Sebetulnya ada sejumlah alasan bagi Sadrakh, Mesakh dan Abednego untuk takluk terhadap perintah raja Nebukadnezar. Mereka bisa saja kompromi satu kali saja dan setelah itu mereka akan taat sepenuhnya kepada Allah. Apalagi ini akibatnya nyawa mereka bisa melayang. Mereka juga dapat beralasan, jika mereka mati, bagaimana caranya mereka melakukan hal-hal baik untuk Allah dan umat-Nya? Bukankah kehendak Tuhan yang membawa mereka sampai ke dalam posisi yang penting di Babel? Bagaimana mungkin mereka dapat mewujudkan rencana Allah terhadap umat-Nya jika pada akhirnya mereka mati?

Sekalipun alasan-alasan mereka di atas dapat saja dimaklumi jika harus menyembah patung emas tersebut, namun, bagi mereka ketaatan kepada Allah melampaui segala-galanya. Mereka rela melepaskan semua pencapaian mereka dalam pemerintahan Babel demi ketaatan kepada Allah. Bahkan mereka tidak peduli terhadap nyawa mereka karena ketaatan kepada Allah melampaui segalanya, termasuk nyawa mereka sendiri. Respons mereka terhadap perintah raja Nebukadnezar sungguh merupakan tindakan iman yang sangat berani.

Ketika Nebukadnezar menebar ancaman terhadap mereka, respons mereka sungguh mengejutkan, “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (ay. 16-18). Apakah kita dapat membayangkan kepercayaan dan ketaatan yang sedemikian rupa terhadap Allah yang Mahakuasa? Mereka percaya Tuhan sanggup melepaskan mereka dari kematian, tetapi mungkin juga Tuhan tidak berkehendak melakukannya. Dan jika itu terjadi, mereka siap mati untuk kehendak Allah.

David Livingstone (1813-1873) adalah seorang misionaris dari Skotlandia yang telah melepaskan begitu banyak hal berkaitan dengan harta duniawi untuk menaati panggilan Tuhan. Dia meninggalkan karirnya di bidang medis di Skotlandia dan pergi ke Afrika. Pelayanannya di Afrika telah membuka jalan bagi pekerjaan misi dan perdagangan yang membongkar perdagangan manusia (budak) yang selama ini terjadi di sana.

Apakah Saudara tahu apa yang pernah dialami oleh Livingstone selama menjadi misionaris di Afrika? Dia pernah diserang dan menjadi cacat oleh seokor singa, rumahnya hancur pada saat terjadi perang Boer, tubuhnya sering tersiksa oleh demam dan disentri, dan yang paling menyedihkan adalah istrinya meninggal di sana. Suatu ketika seseorang berkata kepadanya, ”Dr. Livingstone, Anda telah mengorbankan begitu banyak untuk Injil.” Jawabanya sangat mengejutkan, ”Pengorbanan? Hanya ada satu pengorbanan yaitu hidup di luar kehendak Allah.”

Dalam kehidupan kita sehari-hari kita juga dapat menghadapi ”perapian”. Kita dapat diperhadapkan pada pilihan antara mengikuti Tuhan dan kehendak-Nya atau kenyamanan, kemapanan dan harta duniawi. Perenungan besar buat kita adalah apakah kita berani membayar apa pun demi sebuah ketaatan kepada Tuhan? Apakah kita rela melepaskan hal-hal berharga dalam hidup kita untuk mengikuti kehendak-Nya?

 

Keyakinan Terhadap Kehadiran Allah

Kita telah melihat pengorbanan David Livingstone untuk menaati panggilan Tuhan kepadanya. Suatu ketika seseorang bertanya kepadanya bagaimana ia dapat bertahan menanggung kesulitan yang amat berat dalam jangka waktu yang lama? Dia menjawab bahwa kata-kata Yesus selalu terngiang di telinganya, ”… Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:20). Livingstone pernah berkata, ”Without Christ, not one step; with him, anywhere.” Kehadiran Tuhan adalah kunci dari keberanian untuk menanggung segala konsekuensi ketaatan kita kepada-Nya.

Di tengah-tengah ketidak-berdayaan Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadapi perapian yang menyala-nyala dan murka sang raja, Allah hadir memberi pertolongan. Kehadiran Allah bahkan mengagetkan Nebukadnezar. Ayat 25 mencatat, “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!” Kita tidak tahu secara pasti siapa oknum keempat di dalam perapian tersebut.

Ada yang menafsirkan itu adalah kemunculan pra-inkarnasi Kristus, malaikat Tuhan, atau Allah sendiri. Namun, sekalipun kita tidak dapat memastikan siapa sosok tersebut, yang pasti Nebukadnezar melihat kehadiran sosok ilahi. Siapa pun sosok ilahi tersebut, kita dapat melihat bahwa Allah mengekspresikan solidaritas, kehadiran-Nya bersama ketiga hamba yang setia tersebut. Kehadiran Allah merupakan kekuatan yang maha dahsyat untuk melewati perapian dan kuasa raja.

Percayalah! Allah menjamin bahwa Ia hadir bersama-sama dengan kita dalam situasi krisis yang kita alami. Allah juga mempunyai cara yang berbeda-beda untuk hadir dalam pengalaman setiap orang dan kadang dengan cara yang tak terduga. Tuhan bisa saja membuka mata rohani kita dan menyadari kehadiran-Nya melalui renungan atau ayat Alkitab yang kita baca. Atau melalui perkataan dari seseorang di dalam pergumulan yang kita hadapi.

Tuhan dapat menunjukkan kehadiran-Nya ketika Ia memenuhi kebutuhan kita dengan cara yang ajaib di saat kita sedang mengalami kesulitan keuangan. Dan masih banyak lagi cara Tuhan untuk menunjukkan bahwa Dia tidak pernah membiarkan kita seorang diri, Ia selalu hadir bersama-sama dengan kita di masa-masa tersulit dan terberat dalam hidup kita.

Kita mungkin kelihatan seorang diri menghadapi situasi krisis yang kita alami. Sepertinya tidak ada orang yang berpihak pada kita. Sepertinya tidak ada orang yang mengerti apa yang kita alami, bahkan mungkin orang memusuhi kita ketika kita menyatakan kebenaran. Namun, percayalah, Allah bersama kita. Allah tidak pernah meninggalkan kita kemana pun Tuhan memimpin kita melangkah dan dalam situasi apa pun. Tuhan beserta kita! (Khotbah Kristen Daniel 3 | Kedaulatan Allah di Masa Krisis)

 

Penulis: GI. Aksi Bali, M.Th.
Khotbah Kristen Daniel 3 | Kedaulatan Allah di Masa Krisis

 

 Baca juga: Khotbah Kristen Yeremia 23: 1-6 | Tuhan Gembala yang Adil

 

Leave a Reply