khotbah-kristen-terbaru-dan-terlengkap
khotbah-kristen-terbaru-dan-terlengkap

Khotbah Kristen | Kesatuan Hidup dalam Karya Trinitas

Khotbah Kristen | Kesatuan Hidup dalam Karya Trinitas | Kejadian 1: 1-3, 26-28 ; Matius 1: 20, Matius 3: 16-17. Ketika berbicara tentang doktrin Trinitas (sering disebut dengan Allah Tritunggal), banyak orang kemudian menjadi bingung dan larut dalam perdebatan. Kebingungan itu muncul melalui pertanyaan sebaliknya : “Jika Tuhan Allah dalam kekristenan itu satu, mengapa Yesus berdoa di taman Getsemani kepada Bapa? Mengapa Ia nampak berdoa kepada diri-Nya sendiri?” Lantas bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?

Pertama kita perlu memahami ada tiga ragam pengajaran Trinitas yang tidak tepat namun dipahami banyak orang :

  1. Pemahaman ini melihat Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam relasi hierarkis. Bahwa Allah Bapa mencipta dunia, lalu mengutus Anak. Anak datang ke dunia dan mengutus Roh Kudus. Dengan demikian Allah Bapa dipandang sebagai sosok yang mengawali karya di dunia sehingga memiliki kedudukan tertinggi, diikuti oleh Anak dan Roh Kudus.
  2. Monarkhianisme : Menekankan kesatuan;prinsip ketunggalan Allah
  3. Modalisme : Pemahan ini melihat bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudu adalah satu pribadi yang berperan dalam perbedaan kronologis waktu dan fungsi semata. Allah hanyalah satu pribadi namun Ia muncul di Perjanjian Lama dikenal sebagai Bapa, muncul kembali di zaman Perjanjian Baru dikenal sebagai Anak (Yesus), lalu muncul kembali pada zaman perkabaran injil para rasul yang dikenal sebagai Roh Kudus.

Pemahaman ini biasanya mengambil Ilustrasi seperti seorang pria yang adalah seorang dokter di tempat kerja, seorang kepala RT di lingkungan rumah, dan seorang kepala keluarga di rumah. Orangnya hanya satu, namun perannya tiga.

  1. Adopsionisme : Meyakini bahwa yang disebut Allah hanyalah Bapa. Yesus adalah manusia yang “diangkat” dan disebut sebagai Anak Allah melalui peristiwa pembaptisan Yesus. Roh Kudus asalah Roh yang dicurahkan oleh Yesus (Anak).
  2. Triteisme : Menekankan kejamakan Allah. Ada tiga Allah, masing-masing dengan hakikat yang berbeda : Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus. Dengan demikian pemahaman ini mengakui adanya tiga Allah dalam iman Kristiani.

Tiga pemahaman diatas adalah pemahaman yang tidak tepat. Karena jika mempertahankan kejamakan Allah, maka kita keluar dari dasar negara Indonesia, Pancasila sila 1 yang menuturkan : “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Jika mempertahankan ketunggalan Allah, maka seolah-olah kita mengingkari adanya tiga pribadi (Bapa, Anak dan Roh Kudus) yang memang berkarya dalam sejarah di alkitab.

Terkait hal ini, maka menjadi penting memperhatikan Pengakuan Iman Athanasius (Gereja Barat) :

  • Tidak mencampurbaurkan ketiga pribadi dan tidak memisah-misahkan hakikat-Nya yang satu
  • Setiap pribadi memiliki atribut keilahian yang sama secara penuh – tidak diciptakan (increatus), tidak terbatas (immensus), kekal (aeternus), mahakuasa (omnipotens)- tetapi hanya ada Satu Allah yang tidak diciptakan, tidak terbatas, kekal dan Mahakuasa.
  • Masing-masing pribadi adalah Allah, namun tidak ada tiga Allah, hanya satu Allah.
  • Setiap pribadi memiliki keunikan tersendiri di dalam relasi internal Allah Tritunggal. Sang Bapa memperanakkan dan mengeluarkan, Sang Anak diperanakkan, Roh Kudus dikeluarkan.
  • Semua pribadi setara (coaquales, coequal) dan sama kekalnya (coaternae, coeternal), karena itu taka da yang lebih dulu atau lebih terkemudian, taka da yang lebih besar atau lebih kecil.

 

Ketiga pribadi (person ilahi : Bapa, Anak, Roh Kudus) BERELASI satu dengan yang lain dalam sebuah PERSEKUTUAn ilahi. Jadi kita memiliki SATU ALLAH DALAM SATU HAKIKAT, SATU RELASI, SATU PERSEKUTUAN dimana di dalamnya ada 3 pribadi yang setara yang berkarya bersama. Dalam kisah Penciptaan (Kej 1: 1-3, 26-28), ketika bapa mencipta, Ia mencipta bersama Sang Firman dan Roh Kudus Allah. Yesus hadir ke dunia sebagai Inkarnasi Firman Allah yang menjadi manusia, dikandung oleh Roh Kudus, melakukan kehendak Bapa (Mat 1: 20, Mat 3: 16-17). Roh Kudus dicurahkan dalam pengutusan Yesus, membimbing manusia mengikuti kehendak Bapa.

Melalui penjabaran di atas kita meyakini bahwa kita memiliki satu Allah dalam satu persekutuan didalamnya ada tiga pribadi yang berkarya bersama. Karya Allah Trinitas ini menguatkan kita mengapa kita manusia adalah mahkluk social. Mahluk social berarti bahwa kita tidak dapat hidup sendiri. Kita selalu membutuhkan orang lain untuk bersekutu, bersinergi, bekerja sama dan saling berbagi. Mengapa demikian? Sebab kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah ! Yang berelasi, bersekutu dalam cinta dan karya bersama. (GPP)

 

Leave a Reply