Renungan Markus 10: 46-52 | Belajar Dari Bartimeus

Renungan-Harian-03-Septemberi-2019
Renungan Harian Mazmur 46: 1-12 | Tempat berlindung dari badai
3 September 2019
Renungan-Harian-04-Septemberi-2019
Renungan Harian Lukas 8: 32-39 | Pekerjaan yang bisa kita lakukan
4 September 2019
Show all

Renungan Markus 10: 46-52 | Belajar Dari Bartimeus

Renungan-Markus-10-46-52-Belajar-Dari-Bartimeus

Renungan-Markus-10-46-52-Belajar-Dari-Bartimeus



Renungan Markus 10: 46-52 | Belajar Dari Bartimeus. Bartimeus anak Timeus adalah seorang pengemis buta yang disembuhkan oleh Yesus. Namun perjuangannya tidaklah mudah untuk bisa bertemu dan disembuhkan oleh Yesus, sebab pada waktu itu orang banyak berbondong-bondong datang untuk bisa berjumpa dengan Dia. Dapat kita bayangkan bahwa begitu sulit orang yang tidak dapat melihat untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.

Perjuangan dari Bartimeus tidak berhenti disitu dia dengan begitu yakin dan percaya sambil  berseru: Yesus anak Daud kasihanilah Aku, namun orang-orang disekitarnya malah menegor dan menyuruh dia untuk diam. Bartimeus semakin keras berteriak seolah-olah dia tidak perduli dengan teguran orang sekitarnya, sampai pada akhirnya Yesus menyuruh orang- orang yang mungkin menegur Bartimeus untuk memanggilnya dan bertanya apa yang harus diperbuat Yesus. Bartimeus hanya berkata Rabuni, supaya aku dapat melihat. Seketika itu juga  Bartimeus dapat melihat karena imannya yang besar menyelamatkannya.

Belajar Dari Bartimeus

Apa yang dapat kita teladani dari Bartimeus? Pertama, Bartimeus tidak terikut dengan lingkungannya. Pada waktu orang banyak itu menegor dia, mungkin merendahkan pekerjaannya, atau menghina kebutaannya, bisa saja dia kembali duduk dan memnta-minta. Namun dia memilih untuk tidak mendengar perkataan yang tidak membangun disekitarnya, berani untuk percaya walaupun keadaan lingkungannya tidak mendukung. Menutup telinga terhadap perkataan yang tidak membangun adalah keputusan yang dapat kita ambil jika kita ingin bertumbuh lebih lagi dalam Yesus Kristus dan tampil sebagai pemenang.

Kedua, Bartimeus cacat fisik namun dia tidak cacat mental. Apa yang terjadi jika ternyata Bartimeus juga memiliki cacat mental, dia tidak akan pernah dan tidak akan mungkin mendapat kesembuhan. Dia akan selalu menganggap dirinya adalah sebuah  kesialan dan apa yang terjadi pada fisiknya adalah suatu takdir kehidupan. Ada berapa banyak diantara kita yang selalu saja melihat kelemahan tubuh dan selalu membanding-bandingkan bentuk tubuh kita dengan orang lain sehingga membuat kita tidak pernah maju dan mencapai puncak keberhasilan yang maksimal. Mensyukuri apa yang Tuhan berikan dalam diri kita dan mau untuk berubah adalah kunci keberhasilan di hidup ini.

Ketiga, Bartimeus menanggalkan Jubahnya dan mendapatkan Yesus. Jubah berbicara tentang dosa atau perbuatan yang lama, Bartimeus bersedia menanggalkan jubahnya yang lama dan menerima jubah keselamatan yang baru dari Yesus. Tidak akan terjadi mujizat dalam hidup kita, jika kita masih nyaman manggunakan manusia yang lama. Apa yang perlu diperbaharui dalam hidup kita melalui pembacaan hari ini? Berani untuk keluar dari lingkungan yang tidak baik, menerima diri sendiri, percaya diri, tidak minder, tidak mudah  putus asa. Namun untuk mendapatkan itu kita  perlu ada komitmen  kepada Yesus agar berubah setiap hari untuk menjadi sama seperti Yesus. (Renungan Markus 10: 46-52 | Belajar Dari Bartimeus)

 

Penulis: Putri Roma Ikasari Sinaga



Admin
Admin
Renungan Harian Kristen merupakan sebuah website/blog yang dibuat sebagai bentuk pelayanan pribadi dari admin di bidang multimedia. Kami hadir untuk Anda yang sedang mencari bahan renungan, ringkasan khotbah, maupun bahan cerita sekolah minggu. Kami juga merupakan wadah untuk berbagi berkat melalui renungan dari setiap kontributor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *