Kumpulan-Renungan-Harian-Anak-Sekolah-Minggu
Renungan Anak Efesus 6: 1-3 (Orang Tua Tersayang)
12 Januari 2020
Kumpulan-Renungan-Harian-Anak-Sekolah-Minggu
Renungan Anak 1 Tawarikh 17: 16-20 (Keluarga yang Diberkati)
13 Januari 2020
Show all

Renungan Harian Efesus 2: 20

Renungan-Harian-13-Januari-2020

Renungan-Harian-13-Januari-2020

Gereja mula-mula bertumbuh begitu pesat. Setelah khotbah pencetak-sejarah rasul Paulus pada Hari Pentakosta, kelompok kecil orang Kristen mula-mula — berkisar 120 orang — membludak menjadi lebih dari 3.000 orang. Setelah itu, setiap hari semakin banyak orang yang menjadi selamat dan bergabung dalam gereja (Kisah Para Rasul 2:47). Itu adalah waktu yang indah!

Tetapi bagaimana orang-orang Kristen baru ini bertumbuh dalam iman mereka? Pada waktu itu (antara 30-33 Masehi), Perjanjian Baru belum ada. Kitab Perjanjian Baru yang pertama (kemungkinan besar surat dari Yakobus) baru muncul   setidaknya sepuluh tahun kemudian. Belum ada yang mencatat keberadaan Yesus di bumi. Bagaimana bayi-bayi rohani ini dapat mempelajari kebenaran Juru selamat mereka?

Bagian pertama dari Kisah Para Rasul 2: 42 memiliki jawabannya: “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”

Perhatikan bagian yang dimiringkan. Sepanjang pembahasan permulaan gereja, penting untuk kita memahami ayat ini. Bahkan, kebenaran ini menjadi dasar fondasi bagi Kekristenan dan masih bermanfaat bagi kita saat ini!

Apakah artinya?

Pengajaran para rasul memiliki bobot yang besar dalam gereja Kristen mula-mula — dan memang selayaknya demikian. Sebagai saksi dari kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, sebelas rasul yang tersisa, beserta Matias (Kisah Para Rasul 1:26), secara unik memenuhi syarat untuk mengajar orang percaya mula-mula dalam pertumbuhan rohani mereka. Untuk tujuan inilah Yesus harus memanggil pria-pria ini menjadi murid-Nya. Mereka adalah alat yang dipilih Allah untuk memulai gereja-Nya dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia.

Pada akhirnya, dua dari mereka, Matius dan Yohanes, menulis Injil catatan kehidupan Yesus menurut pimpinan Roh Kudus (Yohanes 14:26) berdasarkan pengalaman pribadi mereka bersama Kristus. Yohanes dan Petrus menulis surat-surat kepada gereja-gereja Kristen yang kemudian menjadi buku-buku Perjanjian Baru. Begitu juga dengan Yakobus dan Yudas, saudara lahiriah Yesus. Buku-buku lain dalam Perjanjian Baru ditulis oleh Markus, Lukas, dan Paulus — semuanya adalah orang-orang mahir yang dulunya merupakan saksi Yesus atau merupakan teman dari seorang saksi Yesus.

Intinya, seperti yang ayat hari ini katakan, Kekristenan bukanlah sebuah cerita karangan manusia, mitos ataupun dongeng, melainkan “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.”

Iman Kristen, seperti yang diajarkan dalam Alkitab, adalah dasar yang kokoh untuk Anda dapat membangun kehidupan Anda di atasnya.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Bacalah Kisah Para Rasul 2:42-47 untuk penjelasan yang lebih lengkap mengenai bagaimana peran gereja mula-mula.

Tahukah anda?

Satu-satunya buku di Perjanjian Baru yang penulisnya tidak diketahui adalah buku Ibrani.

Admin
Admin
Renungan Harian Kristen merupakan sebuah website/blog yang dibuat sebagai bentuk pelayanan pribadi dari admin di bidang multimedia. Kami hadir untuk Anda yang sedang mencari bahan renungan, ringkasan khotbah, maupun bahan cerita sekolah minggu. Kami juga merupakan wadah untuk berbagi berkat melalui renungan dari setiap kontributor.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: