Renungan Harian Amsal 15:1-12 | Mencintai Teguran

Renungan-Harian-Amsal-29-15-23-Didiklah-Sebelum-Terlambat
Renungan Harian Amsal 29:15-23 | Didiklah Sebelum Terlambat
28 Februari 2018
Renungan-Harian-Yehezkiel-35-22-29-Hanya-Tuhan-Yang-Mampu
Renungan Harian Yehezkiel 35:22-29 | Hanya Tuhan Yang Mampu
2 Maret 2018
Show all

Renungan Harian Amsal 15:1-12 | Mencintai Teguran

Renungan-Harian-Amsal-15-1-12-Mencintai-Teguran


Renungan Harian Amsal 15:1-12. Apa saja akibatnya bila kita mendengarkan atau menolak teguran yang baik bagi diri kita (ay. 5, 10, 12)?

Mencintai Teguran

Dalam hidup ini, saya bersyukur atas aneka teguran di masa lalu yang disampaikan oleh orang-orang yang mengasihi saya. Saya membayangkan seandainya tidak ada teguran-teguran tersebut maka mungkin hidup saya jauh lebih berantakan atau buruk daripada sekarang. Teguran kasih yang pernah diarahkan kepada saya menjadi instrumen di tangan Tuhan dalam membentuk dan membangun karakter saya.

Pada hari sebelumnya, kita sudah belajar bahwa orang yang keras kepala adalah orang yang tidak suka dengan teguran. Hari ini, kita akan melihat bahwa untuk mencegah diri kita berubah menjadi pribadi yang keras kepala, kita harus berusaha mencintai teguran yang baik. Ditegur memang tidak pernah enak. Artinya, kita bersalah. Namun, yang terpenting adalah respons kita. Ketika kita menolak teguran maka kita sedang mengukuhkan kekerasan hati kita. Sebaliknya, ketika kita menerima teguran, kita belajar merendahkan hati.

Apakah Anda dikenal sesama sebagai orang yang sulit menerima masukan atau teguran? Jika demikian, ingatlah bahwa karakter Anda ini kelak akan menghancurkan Anda. Belajarlah menerima teguran yang membangun. (Renungan Harian Amsal 15:1-12 – GKBJ)



Admin
Admin
Renungan Harian Kristen merupakan sebuah website/blog yang dibuat sebagai bentuk pelayanan pribadi dari admin di bidang multimedia. Kami hadir untuk Anda yang sedang mencari bahan renungan, ringkasan khotbah, maupun bahan cerita sekolah minggu. Kami juga merupakan wadah untuk berbagi berkat melalui renungan dari setiap kontributor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *