Renungan Harian Yohanes 3: 16 ( Wujud Kasih ). Emily Jordan tidak bisa menjadi ibu seutuhnya karena setelah didiagnosa dokter, ia mengidap kanker serviks. Sewaktu usianya 29 tahun, dokter menyarankannya agar ia melakukan Histerektomi (pengangkatan Rahim). Tentu saja konsekuensinya ia tidak memiliki anak untuk selamanya karena rahimnya sudah diangkat. Beruntung, ibunya yang bernama Cindy Reutzel, usia 50 tahun, mau meminjankan rahimnya untuk mengandung bayi di dalam kandungan Emily. Usaha tersebut berhasil, setelah 9 bulan, Cindy melahirkan bayi sekaligus cucunya dengan selamat. Bayi itu kemudian diberi nama Elle Cynthia.

Wujud Kasih

Tidak lepas dari ayat bacaan saat ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini. Sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal”. Seharusnya, wujud kasih bukan hanya sekedar kata-kata saja tanpa adanya tindakan untuk menolong. Wujud kasih yang sebenarnya harus ditunjukkan dalam bentuk empati, dimana kata-katanya disertai tindakan nyata untuk menolong, sekalipun harus berkorban.

 

Tuhan Yesus sudah memberiakan teladan dalam kasih. Dia tak hanya merasa simpati terhadap manusia yang berdosa. Namun empati-Nya ditunjukkan dengan mengurbankan diri-Nya di kayu salib. Dia mau menggantikan posisi manusia yang seharusnya dihukum karena dosa-dosanya. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa Yesus benar-benar mengasihi semua manusia yang berdosa agar tidak binasa, melainkan supaya memperoleh hidup yang kekal melalui kematian Yesus di kayu salib. Tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih Yesus. (tt)