Renungan Harian Tesalonika 3: 6-13 (Wujud Hidup Beriman) Bruder Lawrence hidup pada abad-17. Beliau sehari-hari bekerja di bagian dapur. Meski demikian, hadirat Allah dihayatinya seperti saat berdoa. Darinya, lahir doa terkenal “Tuhan atas panci, wajan, dan perabot rumah tangga! Jadikan aku seorang kudus saat mengambilkan makanan bagi orang lain dan membersihkan piring”. Ia menjadi seorang yang rohani bukan karena melakukan hal rohani tetapi melakukan hal biasa dengan sikap rohani.

Seperti Lawrence, Paulus memberi teladan kepada jemaat Tesalonika bahwa ia tidak malas bekerja dan tidak makan makanan orang dengan tidak membayar. Ia bekerja keras dan tidak pernah berhenti karena tidak mau menyusahkan jemaat Tesalonika (dikutip dari Terjemahan Bahasa Indonesia Sederhana).

Wujud Hidup Beriman

Pada zaman ini banyak orang ingin mendapatkan hasil kerja dengan mudah dan cepat. Bila dituruti etos kerja dan kinerja menjadi merosot sehingga menghalalkan segala dan memikirkan keuntungan tanpa nilai kerja dan nilai kristiani. Padahal bila ditinjau dari iman Kristen, bekerja merupakan anugerah dan tanggung jawab umat manusia sejak penciptaan. Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (Kej. 2: 15). Bahkan Bapa dan Yesus pun bekerja sampai sekarang (Yoh 5: 17).

Jadi, bila kita sudah memahami nilai atau arti bekerja, yakin sebagai anugerah dan tanggung jawab dari Tuhan, marilah kita melakukannya dengan sukacita sebagai pengabdian dan syukur kita kepada Tuhan, dengan cara yang berkenan di hati-Nya sehingga di dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payah kita tidak akan sia-sia (1 Kor. 15: 58). (tit)