Renungan Harian Amsal 22: 26 (Menanggung Utang? Jangan!) Utang adalah kewajiban perusahaan atau perorangan kepada pihak ketiga yang dibayar dengan cara menyerahkan aktiva atau jasa dalam jangka waktu tertentu karena transaksi pada masa lalu. Utang digolongkan menjadi 1) utang jangka pendek yang pelunasannya kurang dari setahun, 2) utang jangka panjang yang pelunasannya lebih dari setahun. Dua metode pencatatan utang adalah 1) accountable payable procedure berupa kartu utang untuk kreditur, yang memperlihatkan catatan mengenai nomor jumlah terutang, jumlah pembayaran, dan saldo utang, 2) voucher payable procedure tidak menggunakan kartu utang tetapi menggunakan arsip voucher menurut abjad atau jatuh temponya.

Menanggung Utang? Jangan!

Dari pengertian utang dan ayat bacaan tersebut kita tidak boleh menanggung utang orang lain. Risikonya sangat berat, yaitu “Kalau engkau tidak sanggup melunasinya, segala harta milikmu akan habis disita”. Jika Anda lakukan, artinya si pengutang terbebas dari utang karena Anda sudah menanggungnya. Sementara, Anda membebani diri sendiri karena mau terlibat. Padahal, sebelumnya, Anda adalah manusia bebas utang. Dari tindakan ini saja, si pengutang memperoleh keuntungan berganda karena 1) memperoleh pinjaman dari si pemiutang, 2) tidak ada niat untuk melunasinya karena Anda sudah menanggungnya di hadapan si pemiutang. Mungkin, Anda ingin berbuat baik. Namun, masalahnya bukan di situ. Masalahnya terletak pada risiko yang harus ditanggung. Risiko penanggungan ini adalah 50%:50%. Kalau Anda sanggup melunasi, itu baik. Kalau tidak, harta Anda disita.

 

Lebih baik, jangan membebani diri karena beban orang lain. Kalau membantu, silakan tetapi jangan menanggungnya karena ada beban Anda sendiri. (rvp)