Renungan Harian Markus 12: 38-44 (Bukan Cara Preman). Si nomor satu, kepala preman distasiun Seoul, Korea, Kwak Heung Sam, hidup bermewah-mewahan di atas penderitaan para pengemis. Sudah menjadi kewajiban bagi para pengemis untuk menyetor 50 % hasil yang mereka dapatkan demi kejayaan Sam. Jika hal itu sampai dilanggar, kematian akan menjadi upah bagi para pengemis. Sudah miskin, diporotin lagi. Malang benar. Karena hal itulah para pengemis hanya bisa berpasrah dalam kepedihan.

Bukan Cara Preman

Demikian dunia berpola hidup. Siapa paling lihai mengakali, ia akan sukses. Siapa paling hebat menginjak orang dengan cara yang paling halus sampai dengan cara yang paling kasar, ia akan menjadi si nomor satu.

Yesus melihat cara-cara “preman” di Sinagoge. Orang-orang nomor satu waktu itu adalah para ahli Taurat. Mereka memang kaya, tetapi itu merupakan hasil dari menelan rumah para janda. Orang- orang mulai menyanjung “si nomor satu” Namun, mengabaikan janda miskin, yang hanya memberikan dua peser. Padahal, bisa saja ia itu adalah salah seorang janda yang jatuh miskin karena rumahnya “ditelan” oleh mulut para ahli Taurat. Siapa peduli? Mungkin saja kita juga tidak peduli. Hanya Yesus yang peduli.

Pola hidup Yesus adalah barang siapa ingin menjadi besar (sukses) di antaramu, hendaklah ia menjadi pelayan (Mat. 20:26). Demikian juga dalam dunia marketplace, Tuhan inginkan kesuksesan kita, bukan kita dapatkan dengan cara-cara kita menginjak orang lain, menelan harta milik yang bukan hak kita, melainkan dengan cara-cara sehat, manusiawi, dan dipenuhi dengan cara-cara berbelas kasih. Yakinlah tidak ada cara-cara preman dalam ajaran-Nya. Pola- Nya teramat jelas, pola belas kasihan. Mari, teladani pola-Nya. (stf)