Renungan Amsal 30: 1-8 (My Portion).  Anda tentu sudah tidak asing dengan iklan rokok di televisi yang diceritakan ada jin terjebak dalam lampu ajaib. Bagi mereka yang menemukan dan menggosok lampu itu, jin tersebut akan mengabulkan permintaannya. Dari setiap edisi iklan tersebut, kebanyakan orang-orang tersebut meminta untuk kesenangannya sendiri. Ada yang meminta harta, kekayaan, jabatan, karir, kehormatan manusia, dan sebagainya yang sifatnya kedagingan.

My Portion

Isi iklan tersebut menggambarkan sifat manusia kebanyakan, yakni penuh kedagingan dan keegoisan. Berbeda dengan manusia kebanyakan, penulis Amsal 30 yang diperkirakan adalah keturunan Ismael ini, dalam doanya ia tidak meminta yang sifatnya kedagingan, ia justru meminta dua hal, 1) Meminta supaya Tuhan menjauhkan kecurangan dan kebohongan. Ini berbicara mengenai integritas dan kejujuran. 2) meminta agar Tuhan tidak memberikan padanya kemiskinan atau kekayaan. Ia memohon agar dimampukan merasa cukup, jauh dari kelebihan yang bisa membuatnya congkak dan menyangkal Allah, jauh dari kekurangan yang bisa menggodanya untuk mencuri. Karena itu, ia memohon agar dapat menikmati yang menjadi bagiannya.

Permohonan dia Agur bin Yake tersebut menunjukkan ia adalah seorang yang ingin hidup jujur dan benar. Tidak ingin memiliki sesuatu yang bukan menjadi haknya. Doa yang sangat menginspirasi dan memotivasi kita memiliki hidup penuh integritas dan kejujuran di zaman yang cenderung serakah, ingin menguras, ingin memiliki segalanya, tidak mengenal batas, tidak tahu merasa cukup, tidak pernah puas dengan apa yang didapat, dan tidak tahu bersyukur.

Kiranya, kita pun berdoa seperti Agur bin Yake karena karakter yang baik keuntungannya melebihi harta atau keinginan daging lainnya.