Renungan Amsal 15: 1-12 (Orang Arogan).  Perseteruan DPRD Jakarta dan Ahok mengenai Anggaran APBD 2015 membuat kita ikut menilai pihak mana yang benar dan pihak mana yang merasa benar. Sikap merasa diri paling benar selalu ada. Bagi dirinya, salah menurut orang belum tentu salah menurutnya. Bahayanya, benar menurutnya harus diakui kebenarannya oleh orang lain. Masalahnya, benar bagi tiap orang berbeda-beda. Namun hal yang paling menyedihkan adalah mempertahankan kebenaran yang sudah jelas-jelas bahkan dirinya sadar bahwa itu salah. Itulah kenapa pengadilan tidak pernah tutup. Banyak orang merasa paling benar.

Si pencemooh dalam teks Ibrani adalah hokeha (orang yang suka mencela atau menghujat). Mengapa pencemooh disebut orang bodoh? Jika ia mencela orang dengan kritik, harusnya ia juga mau menerima kritik dan nasihat orang. Istilahnya ada timbal balik. Namun, jika tidak mau dinasihati, bisa kita lihat kematangan rohaninya. Hal ini dapat dilihat dari kemauan seseorang menerima didikan meskipun menerima kritik. Bukanlah kekalahan jika kita mau dididik meskipun diungkap dengan keras. Sebab hal itu akan mematangkan hidup kita. Hanya orang bodoh yang tidak mau berpikir seperti itu. Berapa banyak dari kita yang membenci nasihat atau teguran orang lain? Didikan atau nasihat menguntungkan hidup kita dalam waktu yang panjang, bukan saja sesaat.

Orang Arogan

Orang yang mau dididik atau merespons secara positif pada koreksi, akan mendapat pengertian dan beruntung selamanya. Hari ini, sudah lapangkah hati kita untuk menerima nasihat dari sesama rekan kerja atas kinerja kita sehari-hari? Sudahkah kita berdamai dengan mereka yang menasihati supaya kita lebih baik lagi bekerja sama dengan mereka? Kalau belum segeralah berdamai karena akan tercipta kerjasama dan kemajuan bersama.