Renungan Harian Ibrani 6: 9-20 (Ketidaktekunan = Ketidakdewasaan) Cerita sukses para pengusaha warung tegal (warteg) bukanlah cerita baru. Namun siapa sangka cerita sukses itu ada keringat dan darah yang mengalir. Hidup di ibukota bukanlah perkara mudah terutama bagi para pendatang. Mereka berjuang lama tidak sekadar satu atau dua tahun. “Ya biasa, orang melihat kami ini berhasil dari sisi usaha, tetapi lihat saja 20 tahun lalu kami hidup untuk makan saja sulitnya minta ampun,” tutur H. Karjo (53). Suka duka menjadi pengusaha warteg telah cukup menjadi bekal mengembangkan usahanya hingga sekarang ini. Berbicara tentang rahasia sukses itu pun hanya satu, yaitu ketekunan.

Ketidaktekunan = Ketidakdewasaan

Ketekunan juga merupakan sesuatu yang penting dalam kebajikan kristiani. Jika kita tidak tekun, kita tidak pernah dapat belajar banyak kebenaran yang Allah ingin sampaikan. Orang yang tidak tekun akan sesuatu menunjukkan bahwa ia belum dewasa. Seperti anak-anak tidak tekun, mereka tidak dapat terlalu lama duduk dan menunggu hingga sesuatu dapat diselesaikan. Ketidaktekunan juga merupakan ketidakpercayaan terhadap Allah. Karena iman dan ketekunan berjalan bersama-sama. Jika kita sungguh-sungguh percaya Allah, kita akan menantikan Dia menggenapi janji-janji-Nya. Ketidaksabaran atau ketidaktekunan bukan hanya tanda ketidakdewasaan dan tiadanya iman melainkan juga merupakan tanda bahwa kita masih hidup dalam kedagingan.

 

Pada dasarnya, kita mempunya sifat tida sabar atau tidak tekun tetapi Roh Kudus dapat memberi kesabaran. Roh Kudus akan aktif bekerja dalam diri kita ketika kita memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Untuk itu, sudahkah Anda bercakap-cakap dengan Tuhan hari ini? (aw)